Uclan Games Design Alumni are amongst the best at EGX 2017
tháng 9 25, 2017
Uclan Games Design Alumni are amongst the best at EGX 2017
No comments
Epic Unreal Engine tweeted news of the fantastic games on view at EGX 2017 on Friday 22nd Sept. We're very proud of our Games Design Alumni as two of their games were selected at EGX as 'Best of Rezzed'
White Paper Games, made up of a team of Uclan Alumni did
BRILLIANTLY as their game,
'The Occupation' was selected amongst the 'Best at Rezzed' at the European Games Expo 2017
at Birmingham NEC.
Also chosen as one of the Best at Rezzed at the European Games Expo was Milky Tea's new game, 'HyperBrawl Tournament' which was shown at Rezzed by Uclan Games Graduate, Scott Swarbrick who now works with them as a games designer.
Also great to see our Alumni Sarah Akers there with Blood Zombies by Paw Print Games
And not to forget our super Alumni, Saija Sipilä, of Rebellion Games, who gave a talk at EGX about production of Sniper 4 Elite! with Thomas Waterhouse- Biggins and Yuri Deary at NEC Birmingham.
White Paper Games, made up of a team of Uclan Alumni did
BRILLIANTLY as their game,
'The Occupation' was selected amongst the 'Best at Rezzed' at the European Games Expo 2017
at Birmingham NEC.
Also chosen as one of the Best at Rezzed at the European Games Expo was Milky Tea's new game, 'HyperBrawl Tournament' which was shown at Rezzed by Uclan Games Graduate, Scott Swarbrick who now works with them as a games designer.
Also great to see our Alumni Sarah Akers there with Blood Zombies by Paw Print Games
And not to forget our super Alumni, Saija Sipilä, of Rebellion Games, who gave a talk at EGX about production of Sniper 4 Elite! with Thomas Waterhouse- Biggins and Yuri Deary at NEC Birmingham.
Apakah ini Masa Depan Dunia CGI pada Video Games?
Teknologi Computer-generated imagery (CGI) tidak pernah lepas dari industri video games, dan semakin hari industri ini semakin berkembang dengan pesat, hingga sampai saat ini muncul lah sebuah istilah Hyper Realistic CGI. Para animator 3D tentunya saling berlomba-lomba untuk mencapai tahappan realistis ini.
Kendala yang dialami oleh seluruh komunitas animator di dunia dalam mendesain model manusia 3D adalah "uncanny valley", yaitu sebuah kondisi saat kita melihat sesuatu yang terlihat hampir menyerupai wujud manusia namun rasanya tetap terlihat masih "belum cukup nyata" dan hanya terlihat seperti mayat hidup/ zombie. Dan tentunya hal ini yang saya rasakan pada semua animasi CGI dalam video games yang pernah saya mainkan selama ini.
Namun tahun 2016 ini, muncul lah sebuah karakter CGI yang menjadi cukup viral di internet, Model CGI ini merupakan sebuah model animasi hasil kreasi animator Teruyuki dan Yuka Ishikawa, Telyuka memulai projek ini sejak 2015 dan setahun setelah nya, hasil yang dihasilkan sungguh luar biasa, sebuah photorealistic renderings karakter model seorang murid sekolah khas Jepang bernama "Saya", dan prestasi ini dianggap telah melampaui kendala yang selama ini telah menjadi kendala dari semua animator yakni "uncanny valley". Akankah karakter "Saya" ini akan menjadi sebuah "awal" masa depan dari industri video games??.
Tentunya itu merupakan sebuah pertanyaan besar yang akan terjawab dengan sendirinya dengan berjalannya waktu, tidak menutup kemungkinan juga kalau di masa depan nanti bahkan animasi CGI yang lebih realistik lagi akan digunakan dalam industri ini.
Kesimpulannya artikel ini hanyalah sebuah pertanyaan yang tidak terjawab, Saya lampirkan foto realistis nya, dan dengan foto .jpg yang tidak ter kompres facebook, jujur karakter "Saya" ini terlihat seperti "hidup" dan sekilas kita sulit membedakan, apakah ini merupakan manusia atau animasi CGI, namun untuk yang sudah baca artikel ini tentunya pola pikir dan alam bawah sadar sudah menyadari kalo gambar yang saya tampilkan hanya CGI belaka.
Berikut ini beberapa projek yang sudah di kerjakan oleh Teruyuki.
Semoga informasi yang saya berikan bisa bermanfaat..
5 Fakta Kenapa Kita Harus Bermain Video Games
Berikut ini adalah 5 fakta kenapa kita harus bermain video games :
1. Bermain video games baik untuk mata kita.
Tunggu dulu, sejak lama kita sudah sering dengar kata-kata orang tua kalau bermain video game akan merusak mata kita, namun faktanya malah terbalik, oke jaman dulu memang TV tabung kualitas nya jelek, dan radiasi yang ditimbulkan cukup besar, itu memang tidak baik untuk mata, namun sekarang di era semua TV sudah menggunakan teknologi serba LCD, LED dan OLED, istilah bermain game akan merusak mata sudah terbantahkan, Penelitian mengatakan kalau kita main video game 30 menit setiap hari dalam satu bulan maka itu akan meningkatkan kemampuan mata kita sebesar 58%.
Uri Polat Tel Aviv University Eye Professor "Practiced action gamers become 58 percent better at perceiving fine difference in contrast".
2. Belajar menghadapi kegagalan.
Video games secara tidak sadar memberikan kita sebuah pelajaran untuk menghadapi kegagalan dalam hidup ini. Karena sebenarnya kita manusia, sejak kecil tidak pernah diajarkan tentang kegagalan, bahkan di sekolah pun tidak mengajarkan anak-anak untuk menghadapi kegagalan, kalau ulangan salah, ulangan jelek, PR tidak di kerjakan maka kita akan di hukum itu "tidak belajar menghadapi kegagalan", tapi dengan bermain games, kalau kita KALAH, kalau kita MATI melawan musuh atau bos tertentu maka kita harus mengulanginya, "just do it again", mulai lagi dari awal, ini akan membuat kita menjadi pantang menyerah dan melakukan nya terus menerus sampai kita menang. Dan hanya games yang benar-benar mengajarkan anak-anak belajar menghadapi kegagalan dan tidak berhenti ketika kita gagal dalam hidup. "And that psychologically only in the games".
3. Meningkatkan kecepatan berfikir dan daya ingat manusia.
Orang bermain games 1 jam setiap hari dalam sepuluh hari bisa membuat kita berfikir cepat dan lebih cepat mengambil sebuah keputusan yang sifatnya mendadak, dan tidak itu saja dengan bermain game secara rutin dapat meningkatkan 12% memori otak kita. Memang dalam sebuah games biasanya kita secara tidak sadar harus mengingat dan mempelajari sesuatu hal yang ada dalam games tersebut. Maka dari itu orang-orang tua dianjurkan untuk bermain games, agar tidak pikun.
Dr Carol Routledge "Game could hold benefit for peoples memory problems"
4. Memperlambat usia otak kita
Akhir-akhir ini sebuah penelitian menyatakan kalau bermain game akan memacu kinerja otak kita dan meningkatkan kemampuan multitasking, hal ini dibuktikan dengan digunakannya video game untuk alat bantu belajar bagi anak-anak yang mengidap penyakit dyslexia. Wow skarang video games juga digunakan untuk penanggulangan penyakit Alzheimer atau sell otak yang mati pada orang tua.
Cambridge University " Video game improved brain function of early memory problem in Alzheimer's disease"
5. Bermain video game bisa membuat kita kaya
Karena sekarang jeni-jenis pekerjaan baru terus bermunculan, industri video games cukup berkambang pesat di luar sana, kalo kita lihat sudah banyak muncul games-games indie yang hanya di buat oleh beberapa orang yang bisa di jual via app store di handphone, munculnya programmer-programmer baru, designer games dan seperti saya anda bisa menjadi reviewer games dan meng iklan kan nya dan mendapatkan uang dari artikel-artikel itu. JagatPlay, Tara Arts, Reza Arap, Lazy Monday, Trainer Tips merupakan sebuah contoh kecil orang-orang yang bisa menghasilkan uang dari video games.
Jadi kesimpulannya bisa dibilang SALAH, kalau bermain games tidak dapat apa-apa, hanya membuang-buang waktu kita dalam hidup yang singkat ini, karena secara tidak sadar saya atau kitalah sebuah produk manusia yang dari kecil sudah bermain games, buktinya kita bisa aja mendapat pekerjaan normal serta masuk ke dalam kehidupan sosial masyarakat sekitar.
Semoga artikelnya bermafaat, selamat malam minggu, happy palaying games..
Sumber: youtube.
Game Review : Child of Light (PS4)
Ubisoft merupakan sebuah developer games yang sebenarnya memiliki potensi sangat besar dan dampak cukup besar bagi industri Gaming untuk saat ini, tidak dapat dipungkiri game-games dari Ubisoft sebenarnya banyak di nanti oleh para fansnya, walaupun kadang saat final release nya games dari Ubisoft kadang mengecewakan, seperti judul-judul; For Honor yang story nya monoton, AC Unity yang banyak bug dan framerate drop, Watch Dogs 1 yang mengalami penurunan grafis saat final release nya, The Division dan The Crew yang hanya ada mode multiplayer tidak ada offline mode nya dan lain-lainnya
Terlepas dari itu semua, secara tidak sadar sebenarnya Ubisoft telah memberikan kita games dengan judul-judul yang tidak terlupakan sepanjang masa, seperti Splinter Cell series, Assassin's Creed II, Far Cry 3, Prince Of Persia series, Rayman series, Beyond Good & Evil, Valiant Hearts dan Child Of Light.
Dengan judul Child Of Light Ubisoft Montreal membuktikan kembali bahwa grafis 3D yang kompleks membantah kan bahwa game bagus harus yang memiliki grafis 3D yang bagus pula. Child Of Light menggunakan grafis 2.5D dengan tema art yang sangat memukau mata.
Child Of Light pertama di release April 2014 untuk semua platform Gaming, dan pertama kali saya memainkan game ini dulu kala saat ada diPS Vita, dan beberapa hari ini saya menamatkan nya kembali diPS4. Child Of Light menggunakan engine UbiArt Framework yang biasa mereka gunakan untuk games Rayman series, dan terbukti game ini memiliki art, pencahayaan, grafis, pemandangan yang sangat indah sekali.
Child Of Light merupakan sebuah game dengan tipe side-scroller dengan bumbu elemen role-playing dalam sistem pertarungan nya, ada teman saya yang bilang kenapa battle nya harus RPG, kenapa tidak langsung pukul dan tebas saja kan lebih simple?, namun menurut saya,salah satu yang unik dari game ini adalah elemen RPG-nya, dan inilah yang membuat game ini menjadi sedikit lebih lama durasinya (8 Jam). Child Of Light mengambil sudut pandang tokoh protagonist bernama Aurora yang mengambil setting dunia mistis bernama Lemuria, yang mana diceritakan Aurora meninggal karena hipotermia atau kedinginan dan dia terbangun di dunia tersebut dan harus memulai mencari kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di Lemuria, dan Aurora harus mengemban tugas untuk mengembalikan matahari, bulan dan bintang yang ditawan oleh ratu kegelapan.
Yang menonjol dari game ini tentunya adalah grafis art ala-ala lukisan kanvas yang sangat unik dan bagus sekali, ada berbagai macam jenis arena dengan tone warna untuk setiap arena yang berbeda-beda pula, itu membuat kita tidak bosan saat menjelajah dunia Lemurian ini. Tidak itu saja dari story line cukup Plot twist, persahabatan dan pengkhianatan, dimana perjalanan Aurora dari kecil hingga menjadi besar, dari mulai berjalan hingga akhirnya dia ternyata bisa terbang, dari memulai petualangan sendirian sampai akhirnya bertemu teman-teman yang memiliki back story dan permintaan quest yang bermacam-macam, seakan akan kita sebagai pemain dibawa masuk ke dalam suasana petualangan Aurora. Tidak itu saja dari segi sound design game ini cukup mendukung, irama lagu yang slow dan mendayu-dayu sangat cocok dengan suasana dunia Lemurian ini, game ini sangat cocok dimainkan dengan headset, saat melawan bos beat musik menjadi lebih cepat sehingga memicu semangat untuk mengalahkan bos tersebut, walau kalah berkali-kali.
Overall game ini cukup bagus sekali, game ini menjadi free PS Plus region 3 bulan Agustus kemarin, yang kurang menurut saya game ini durasi nya sangat pendek, dan tidak ada Platinum Trophy Nya, sehingga "motivasi" untuk menamatkan game ini dalam mode New Game+ tidak ada, setelah tamat di level 55 ya sudah, tidak ada alternatif ending lainnya.
Game ini memang pantas mendapat rate yang tinggi diangka 8-9/10.

















































